Ada seorang ulama bernama IBNU TAIMIYAH ,dengan nama lengkap ahmad taqiyuddin ,abu abbas bin syihabuddin abdul mahasin abdul halim bin syekh majduddin abil barakat adussalam bin abi muhammad abdillah bin abi qasim al lhadar , bin muhammad bin al khadhar bin ali bin abdillah,
Famili ini dinamai familii IBNU TAIMIYYAH .
Ibnu taimiyah /ahmad taqiyuddin lahir di desa heran 10 rabiul awal th 661 h ,wafat 724 h. Beliau bermadzab hanbali ,namun sangat disayangkan beliau mempunyai akidah yang sama dengan akidah mujassimah , dengan menyamakan tuhan dengan makhluk dan mengeluarkan fatwa fatwa fiqih yanhg berbeda jauh dari fatwa fatwa dalam madzab hanbali sendiri dan madzab 4 yang lainya .
Dalam kitab kitab karanganya seperti al munazharah fil' aqidah al wasithiyah dan al aqidah al hamiwiyah al kubro " ia terangkan bahwa dasar madzabnya adalah mengartikan ayat dan hadis nabi yang bertalian dengan sifat tuhan dipahami menurut lafadz zahirnya saja ,yakni secara harfiah saja .
Salah satu aqidah mujassimah yang diadopsi ibnu taymiah adalah tuhan duduk di jihat(arah) atas ,boleh ditunjuk dengan jari telunjuk ke arah atas ,
hal ini dijelaskan didalam kitab yang bernama "ibnu taimiyah " karangan muhammad abdu zahrah ,pada pagina 269 dinukilkan perkataan ibnu taimiyah dalam kitab "hamawiyatul Kubra" ,pada pagina 419,420 dan 421 diantaranya Ibnu Taimiyah berkata : Tiada suatu hurufpun dari alquran dan hadis yang melarang kita menunjuk tuhan ke atas dengan jari .
Aqidah semacam itu adalah aqidah yang sangat jelas aqidah yang sama MUJASSIMAH /MUSYABBIHAH yang sesat menyestkan , karena aqidah semacam itu sama dengan aqidah salah satu ulama besar mujassimah yaitu Ali bin Manshur dan Muhammad bin kiram yang memfatwakan tuhan bertempat dan tempatnya boleh ditunjuk dengan jari ke arah atas (itiqod ahlusunnah waljamaah ,kh.sirajuddin abbas hal.254)
Jadi tidaklah heran ,kalau pengembara dunia pada abad ke VII yang bernama IBNU BATHUTHAH mengatakan dalam kitabnya "rahlah ibnu bathutah " bahwa ia melihat ibnu taimiyyah adalah seorang alim besar ,tetapi "fi aqlihi syaiun" (otaknya sedikit goncang).
Kesesatan kesesatan aqidah Ibnu taimiyyah sangatlah banyak ,dimana aqidahnya menyandarkan pada aqidah mujassimah /musyabbihah ,namun walaupun begitu pemahaman Ibnu taimiyyah ini banyak pula menjalar ke indonesia .
Didalam kitab "daf'us syubah man tasyabbah wa tamaarrad karangan mufti syakhul islman taqiyuddin al husainu adDimsyaqi pada pagina 41 dijelaskan :
"mengabarkan Abu hasan ali ad Dimsyaqi ,ia terima dari bapaknya bahwa bapaknya menghadiri majlis IBNU TAIMIYAH di masjid Damsyik , Ibnu Taimiyah memberi pelajaran dihadapan umum ,ketika sampai pada penggalan ayat "tuhan istiwa di atas arsy "maka ia (Ibnu taimiyah ) mengatakan bahwa tuhan duduk bersela serupa sela saya ini .
Maka sangatlah jelas bahwa pemahaman dan aqidah Ibnu Taimiyah salah satu ulama rujukan wahabi salafi ini mempunyai pemahaman mujassimah ,maka tak heran jikalau pemahaman seperti ini masih di adopsi oleh salafi wahabi dengan memahami alquran secara tekstual dan harfiahnya saja ,maka benarlah syair yang berbunyi "buah jatuh tak jauh dari pohonya " yaitu faham ibnu taimiah masih diadopsi oleh salafi wahabi dengan memahami secara tesktual ayat2 mutsyabihat dan menolak takwil para ulama ulama ahlusnnah waljamaah ..
Didalam kitab syarah nahjul balaghah juz III ,hal.225 dijelaskan :
Kaum mujassimah adalah kaum yang disebut kaum menubuhkan ,karena mereka menubuhkan tuhan ,mengatakan tuhan bertubuh terdiri dari daging ,bermuka ,bermata ,bertangan ,berkaki ,dan bahkan ada yang mengatakan tuhan itu berkelamin dan kelaminya laki laki .
Penjelasan diatas sangatla mirip dengan aqidah yang dipahami Ibnu taimiah dengan salah satunya menyerupakan istiwa sama dengan duduknya bersela ,
Perlu diFahami bahwa faham mujassimah telah ditentang dan dibantah oleh ulama ulama ahlusnnah waljamaah salah satunya ulama yang bermnama Jamaluddin ibnu al Jazi al Hanbali (bukan ibnul qoyim al jauzi yang berpaham wahabi) , beliau telah mengarang kitab untuk menolak faham kaum mujassimah /musyabbihah dengan kitabnya "Daf'u syubahit tasybih war rad 'alal mujassimah .
Dan pemahaman serupa seperti mujassimah yaitu faham dan aqidah yang diadopsi Ibnu Taimiyyah telah ditentang dan dibantah oleh ulama ahlusnnah waljamaah salah satunya IBNU HAJAR AL HAITAMI dengan mengarang kitab "Assawaiqul Muhriqah Firaddi alaz Zindiqah "..
Aqidah yang benar mengeani mengimani ayat ayat mutsyabihad adalah dengan metode takwil ataupun metode tahfid yaitu menyerahkan makna kepada allah seperti yang dilakukan imam malik saat ada yang bertanya lafadz istiwa ,maka beliau menjelaskan
"AL ISTIWA U MA'LUUMUN WALKAFIYYATU MAJHULUN WASSU AA LU NGANHU BID'AH "
(PERKATAAN ISTIWA SUDAH DIKETAHUI OLEH SETIAP ORANG ARTINYA ,TETAPI CARANYA TIDAK DIKETAHUI ,BERTANYA TANYA SOAL INI ADALAH BIDAH )
Adapun metode takwil dalam memahami ayat ayat mutasyabihad dapat merujuk pada tafsir tafsir ulama ahlusunnah seperti
1.Tafsir jalalaen jilid II ,pagina 82
(yang dimaksud istiwa adalah menguasai dan memerintah)
2.Tafsir Farid Wajdi ,pagina 412
(istiwa artinya memerintah dan menguasai)
3.Tafsir Ruhul Bayan ,jilid V pagina 363
(yang dimaksud istiwa adalah menguasai)
Semoga bermanfaat ,share guna agar pengetahuan ini dapat menambah ilmu kawan kawan kita yang belum paham , 😊

Komentar
Posting Komentar